Rabu, 27 Maret 2013

Jangan Bersedih, Inilah Kiat-kiat untuk Bahagia!


1.   Sadarilah bahwa jika Anda tidak hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda. Inilah makna sabda Rasulullah: “Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi
2.      Lupakan masa lalu dan semua yang telah terjadi, karena perhatian yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan kegilaan.
3.     Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada di alam gaib. Jangan pikirkan hingga ia datang dengan sendirinya.
4.       Jangan mudah tergoncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri Anda setara dengan kritikan tersebut.
5.        Beriman kepada Allah, dan beramal salih adalah kehidupan yang baik dan bahagia.
6.     Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan kesenangan maka dia harus berdzikir kepada Allah.
7.        Hamba harus menyadari bahwa segala sesuatu berdasarkan ketentuan qadha dan qadar.
8.        Jangan menunggu terima kasih dari orang lain.
9.        Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk.
10.    Kemungkinan yang terjadi itu ada baiknya untuk diri Anda.
11.    Semua qadha bagi seorang muslim baik adanya.
12.    Berpikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah.
13.    Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak daripada yang dimiliki orang lain.
14.    Yakinlah, dari waktu ke waktu selalu saja ada jalan keluar.
15.    Yakinlah, dengan musibah hati akan tergerak untuk berdoa.
16.    Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati.
17.    Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
18.    Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele.
19.    Sesungguhnya Rabb itu Maha Luas ampunan-Nya.
20.    Jangan marah, jangan marah, jangan marah!!
21.    Kehidupan ini tak lebih hanya sekedar roti, air, dan bayangan. Maka tak usahlah bersedih jika semua itu ada
22. (Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu) (QS. Adz-Dzariyat: 22).
23.    Kebanyakan dari apa yang Anda takutkan tidak pernah terjadi.
24.    Pada orang-orang yang tertimpa musibah itu ada suri tauladan.
25.    Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan cobaan atas mereka.
26.    Ulangilah doa-doa untuk menghapuskan bencana.
27.    Anda harus melakukan perbuatan yang baik dan membuahkan, dan tinggalkanlah kekosongan.
28.    Tinggalkanlah semua kasak-kusuk dan jangan percaya pada kabar burung.
29.   Kedengkian dan keinginan Anda yang kuat untuk membalas dendam itu hanya akan membahayakan kesehatan Anda sendiri. Lebih besar daripada bahaya yang akan menimpa pihak lawan.
30.  Semua musibah yang menimpa diri Anda adalah penghapusan dosa-dosa.
                                                                                                      (sumber: la tahzan)

Selasa, 26 Maret 2013

Masih Adakah Tempat Untukku?



Aku ingin menjadi keluarga ini, aku ingin menjadi keluarga itu, aku ingin hidup mewah, aku ingin memiliki pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Mungkin inilah yang akan dikatakan seorang anak jika mereka sudah bisa bicara pada saat mereka terlahir kedunia ini. Bahkan mungkin akan berkata begini “aku tidak pernah minta dilahirkan kedunia ini, aku tidak pernah minta hidup di rahim wanita ini”. Itupun jika mereka bisa meminta dan menawar-nawar kepada Sang Pencipta.
Setiap insan diciptakan dengan berbagai macam keadaan hidupnya. Mereka lahir mulai dari yang namanya bayi sampai orang dewasa. Bayi lahir tanpa dosa, tanpa tahu keadaan orang yang melahirkannya maupun keadaan yang lain. Bayi merupakan insan polos yang hanya bisa menangis, menjerit, dan sesekali tersenyum.
Kemudian bayi ini beranjak menjadi seorang anak yang lucu, remaja yang mencari jati diri, bahkan menjelma menjadi orang dewasa yang dihadapkan pada berbagai persoalan. Namun tak sedikit juga yang hanya bisa menghirup udara hanya sesaat karena kematian telah menjemput mereka. Wajar jika mereka meninggal karena sakit. Tapi pedih sekali mendengar dan melihatnya, ketika mereka meninggal karena pembunuhan.
Sekarang ini sedang marak sekali pembunuhan anak, tentunya dengan berbagai motif. Jika pun bukan kematian yang diterima mungkin hal lain yang diterima, seperti perdagangan anak, kekerasan anak, hukuman bagi anak, dan masih banyak lagi. Ada apa sesungguhnya dengan zaman sekarang ini? Anak-anak ini bertanya dimana mereka akan menemukan ketenangan dan kenyamanan?? Masih ada tempat untukku di negeri ini?
Anak yang seharusnya orang tua lindungi malah menjadi objek sasaran kekerasan yang tiada henti. Apapun dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari seorang anak. Entah itu anak orang lain yang tidak dikenal maupun anak kandung sendiri. Semakin kejamnya negeri ini memaksa anak terkadang harus bertindak kurang ajar terhadap orang tua. Rasa hormat itu sekejap mereka singkirkan untuk dapat membela diri sendiri. Bahkan tak jarang sekarang ini banyak anak yang melaporkan orang tua kandung sendiri kepada pihak kepolisian.
Bukan salah anak bertindak demikian. Anak itu insan yang masih mencari-cari pegangan hidupnya. Apabila orang tua nya benar mendidik anak pasti akan menghasilkan anak yang hormat dan bahkan bisa berprestasi. Namun jika didikan orang tua salah jangan heran jika anaknya kemudian membangkang bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar.
Anak yang terlahir dengan nasib kurang beruntung bahkan harus lebih berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Seperti anak jalanan, anak yang berada di panti asuhan, anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental, dan masih banyak lagi. Tak ada anak yang menginginkan hal demikian. Namun ini kenyataan hidup yang harus mereka jalani. Belum lagi perjuangan yang harus mereka lakukan, kemudian ditambah dengan penderitaan-penderitaan dari pihak lain semakin membuat hidup mereka tersiksa. “Dimana lagi kami harus tinggal? Kemana lagi kami harus mengadu? Apakah negeri ini memang tidak cocok untuk kami hidup?”
Anak adalah calon penentu bangsa ini. Jika begini keadaan anak bangsa kita, lalu akan seperti apa kehidupan negeri ini di masa mendatang? Seperti kata pepatah “Rakyat itu adalah akar, apabila akarnya sehat maka pohonnya pun sehat”. Dan anak merupakan bagian dari rakyat rersebut. Sesungguhnya anak-anak yang demikian lah yang mempunyai prestasi luar biasa dibanding anak pada umumnya. Aset bangsa ini yang sesungguhnya menjadi penentu masa depan. Apakah kami ini kelak yang akan menyengsarakan bangsa atau yang akan memajukan bangsa? Semua jawaban ini tergantung dari bagaimana mereka diperlakukan ketika kecil, dan seperti apa pendidikan yang mereka terima ketika kecil.
Semoga prestasi siswa-siswi saat ini bisa memacu anak-anak yang lain untuk terus berjuang demi kehidupan dan pendidikannya yang lebih cemerlang.
                                                                                                               (Desi Desember)


Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pendidikan Ganesha Edisi 154 Januari IV 2012

Selasa, 19 Maret 2013

Yang Lalu Biar Berlalu



Mengingat  mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya.” Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, “Mengapa engkau tidak menarik gerobak?”
“Aku benci khayalan,” jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.
Orang yang berfikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap khafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan!
                                                                                         (sumber: la tahjan)